Sabtu, 08 Desember 2012

Gadung


Gadung
Dioscorea hispida Dennust atau yang sering kita kenal dengan gadung merupakan tanaman yang berbentuk umbi. Gadung merupakan tanaman semak yang tumbuh menjalar, dengan permukaan batang halus, berduri dan berwarna hijau keputihan. Daunnya tunggal, lonjong, berseling, dengan ujung lancip dan pangkal tumpul, serta berwarna hijau. Pembungaan berbentuk tandan, ada di ketiak daun dengan kelopak berbentuk corong, dan mahkota berwarna hijau kemerahan. Buahnya bulat, dan setelah tua berwarna biru kehitaman. Biji gadung berbentuk ginjal. Ada beberapa jenis gadung. Antara lain
gadung bunga wangi, gadung kuning, gadung kelan, gadung cina, dan gadung padi yang bunganya tidak berbau.
Dalam hal pengobatan tradisional, bagian yang digunakan adalah rimpangnya. Bagian ini mempunyai sifat khas manis dan menetralkan. Berdasarkan uji laboratorium, rimpang gadung mengandung unsur kimia alkaloid dioskorina, diosgenina, saponin, furanoid norditerpena, zat pati, dan tannin. Dengan berbagai kandungan tersebut, rimpang gadung berkhasiat sebagai antiinflamasi, spasmolitik, diaforetik, dan kholagog (Anonim : 2010 ).
Ada beberapa jenis Gadung, antara lain, Gadung Bunga Wangi, Gadung Kuning,  Gadung Kelan, Gadung Padi (bunga tidak berbau). Gadung dapat mengobati berbagai penyakit seperti, keputihan, kencing manis, kusta, mulas, nyeri empedu, nyeri haid, radang kandung empedu, rematik (nyeri persendian)., kapalan (obat luar).
Biasanya orang yang terbiasa mengonsumsi camilan gadung cenderung terhindar dari gangguan rematik. Proses penyembuhan rematik dapat dipercepat dengan menyantap camilan gadung. Tetapi, konsumsi yang berlebihan apalagi jika proses pengolahannya kurang sempurna dapat menyebabkan keracunan. Keracunan gadung berakibat tubuh kejang-kejang dan kepala terasa pening. Bahaya ubi gadung karena mengandung zat yang disebut dioscorin [C13H19O2N].  Zat dioscorin ini bila dapat mengakibatkan mual, muntah, pusing bahkan kematian. Agar dapat dimakan perlu pengolahan, seperti berikut ini. Umbi dipotong tipis-tipis, kemudian direndam dalam air yang telah dibubuhi garam. Umbi terus dialiri air sampai air cuciannya tidak berwarna putih. Setelah itu dijemur di panas matahari (Anonim : 2012).






Tidak ada komentar:

Posting Komentar